Chat disini

Selasa, 05 Februari 2013

MANAJEMEN PENDIDIKAN


DOSEN PENGEMPU :
M. Misbah, S .Ag., M.pd. I

OLEH
Nama : Adres Widayanti
NIM   : 10322001
Nama : Siti Aminah
NIM  :




STIT INSIDA JAKARTA CAB. PONDOK MELATI
2013


A. Pengertian Manajemen

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan
Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno m←nagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang untuk mencapai tujuan organisasi.
Sementara itu, Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) efektif dan efesien.
Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal; dalam berbagai bidang seperti industri, pendidikan, kesehatan, bisnis, finansial dan sebagainya. Dengan kata lain efektif menyangkut tujuan dan efisien menyangkut cara dan lamanya suatu proses mencapai tujuan tersebut.

B. Pengertian Supervisi

Secara morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan - orang yang berposisi diatas, pimpinan - terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata - mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki
Secara sematik, Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.
Secara Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris " Supervision" artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.

2.1 Pengertian Supervisi Menurut Para Ahli
a. Good Carter
Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran.  God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar,
b. Boardman
Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern. Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern.
c. Wilem Mantja (2007)
Mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan  supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (gurumurid) dan peningkatan mutu pendidikan
d. Kimball Wiles (1967)
Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : "Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation". Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajarmengajar yg lebih baik.
e. Mulyasa (2006)
supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugas.
f. Ross L (2980)
  mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Ross L memandang supervisi sebagai pelayanan kapada guru - guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan.
g. Purwanto (1987)
Supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.
Kegiatan supervisi dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Supervisi masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan -orang yang berposisi diatas, pimpinan-- terhadap hal-hal yang ada dibawahnya.  Inspeksi : inspectie (belanda) yang artinya memeriksa  dalam arti melihat untuk mencari kesalahan. Orang yang menginsipeksi disebut inspektur. Inspektur dalam hal ini mengadakan :
1. Controlling : memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya
2. Correcting : memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah     ditetapkan/digariskan
3. Judging : mengandili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak
4. Directing : pengarahan, menentukan ketetapan/garis
5. Demonstration : memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik

C. Manajemen Supervisi
 C.1 Tujuan Supervisi Pendidikan
Supervisi yang baik akan menghasilkan pola kinerja yang baik, jika supervise dilakukan dengan cara dan metode yang benar pula, tentu ini menuntut pengetahuan yang benar pula bagi para supervisi dalam melaksanakan tugasnya.
1. Tujuan Umum Supervisi pendidikan
a)     Berdasarkan Tujuan Umum Pendidikan
Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia "dewasa" yang sanggup berdiri sendiri.
b)     Berdasarkan Tujuan Pendidikan Nasional
Yaitu membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia-manusia pembangunan yang dewasa dan pancasilais.
c)     Berdasarkan Tujuan Supervisi sendiri
Agar tercapai perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar pada khususnya.
2. Tujuan Khusus Supervisi Pendidikan
Meliputi :
a)     Membantu guru-guru untuk lebih memahami tujuan yang sebenarnya dari pendidikan dan perencanaan sekolah dalam usaha mencapai tujuannya.
b)     Membantu guru-guru untuk dapat lebih menyadari dan memahami kebutuhan-kebutuhan dan kesulitan-kesulitan murid dan menolong mereka untuk mengatasinya.
c)     Memperbesar kesanggupan guru-guru untuk memperlengkapi dan mempersiapkan murid-muridnya menjadi anggota masyrakat yang efektif.
d)     Membantu guru-guru mengadakan diagnose secara kritis aktivitas-aktivitasnya, serta kesulitan- kesulitan mengajar dan belajar murid-muridnya, dan menolong mereka merencanakan perbaikan.
e)     Membantu guru-guru untuk dapat menilai aktivitas-aktivasnya dalam rangka tujuan perkembangan anak didiknya.
f)      Memperbesar kesadaran guru-guru terhadap tata kerja yang demokratis dan guru dapat mempelajari bersama catatan-catatan tentang kemajuan murid guna menilai keefektivan program yang disusun.
g)     Memperbesar ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu karyanya secara maksimal dalam bidang profesi (keahlianya).
h)     Membantu guru-guru untuk dapat lebih memamfaatkan pengalaman-pengalamannya sendiri.
i)      Membantu untuk lebih mempopulerkan sekolah kepada masyarkat agar bertambah simpati dan kesedian masyarakat untuk menyokong sekolah.
j)      Memperkenalkan guru-guru atau karyawan baru kepada situasi sekolah profesinya.
k)     Melindungi guru-guru dan karyawan terhadap tuntutan-tuntutan yang tak wajar dan kritik-kritik yang tak sehat dari masyarkat.
l)      Mengembangkan "profesionalisme esprit e corps" guru-guru.

C. 2   Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan
Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah sebagai supervisor hendaknya bertumpu pada prinsip-prinsip supervisi. Menurut E. Mulyasa prinsip-prinsip supervisi antara lain:
1.     hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis,
2.     dilaksanakan secara demokratis,
3.     berpusat pada tenaga kependidikan (guru),
4.     dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru),
5.     merupakan bantuan profesional
Dalam buku Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan karangan Piet A. Sahertian mengemukakan prinsip supervisi antara lain :
1.     Prinsip ilmiah (scientific), prinsip ini mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a)     Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan  proses belajar mengajar.
b)     Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data, seperti angket, observasi, percakapan pribadi, dan seterusnya.
c)     Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.
2.       Prinsip Demokratis
Layanan dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.
3.     Prinsip kerjasama

Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi 'sharing of idea, sharing of experience', memberi support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.
4.     Prinsip konstruktif dan kreatif
Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitas kalau supervisi mampu mencipakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan melalui cara-cara yang menakutkan.
Sedangkan Oteng Sutisna mengemukakan prinsip dalam pelaksanaan kegiatan supervisi, yaitu:
1.     Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan yang bersifat kooperatif dan mengikutsertakan
2.     Semua guru memerlukan dan berhak atas bantuan supervisi
3.     Supervisi hendaknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil sekolah
4.     Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan-tujuan dari sasaran-sasaran pendidikan
5.     Supervisi hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua anggota staf sekolah
6.     Tanggung jawab bagi pengembangan program supervisi berada pada kepala sekolah bagi sekolahnya.
7.     Efektivitas program supervisi hendaknya dinilai secara periodik.
Dengan demikian prinsip supervisi merupakan bagian yang sangat penting untuk dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan supervisi. Dalam pelaksanaan prinsip supervisi sangat terlihat dari peran kepala sekolah sebagai supervisor atau pengawas internal bagi sekolahnya dalam memajukan dan mengembangkan sekolahnya, sehingga dengan adanya pedoman.prinsip supervisi kepala sekolah diharapkan memberikan pelayanan yang baik tanpa ada pemaksaan kepada guru-guru atau personal.
D.    Fungsi tekhnik dalam supervisi
Secara garis besar teknik supervisi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: teknik perseorangan dan teknik kelompok.
a.      Tekhnik Perseorangan
Yang dimaksud teknik persorangan ialah supervisi yang dilakukan secara perseorangan, beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:
1.      Mengadakan kunjungan kelas (classroom visitation), Kepala sekolah datang ke kelas untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar. Dengan kata lain, untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki.
2.      Mengadakan kunjungan observasi (observation visits), Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain.
3.      Membimbing guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa atau mengatasi problema yang dialami siswa.
4.      Membimbing guru dalam hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah, antara lain: menyusun program semester, membuat program satuan pelajaran, mengorganisasi kegiatan pengelolaan kelas, melaksanakan teknik-teknik evaluasi pembelajaran, menggunakan media dan sumber dalam proses belajar mengajar, dan mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler.
b.      Tekhnik Kelompok
Teknik kelompok ialah supervisi yang dilakukan secara kelompok, beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
1.         Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting), Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru, dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi.
2.         Mengadakan diskusi kelompok (group discussions), Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Di dalam setiap diskusi, supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan, bimbingan, nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan.
3.         Mengadakan penataran-penataran (inservice-training), Teknik ini dilakukan melalui penataran-penataran, misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu. Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah, maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran.
E.     Kunjungan kelas sebagai tekhnik supervisi
Perkunjungan kelas ini berfungsi sebagai alat untuk mendorong guru agar meningkatkan cara mengajar guru dan cara belajar siswa. Perkunjungan ini dapat member kesempatan guru-guru untuk mengungkapkan pengalamannya sekaligus sebagai usaha untuk memberikan rasa mampu kepada guru-guru, karena guru dapat belajar dan memperoleh pengertian secara moral bagi pertumbuhan keduanya. Perkunjungan kelas bertujuan untuk memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar. Dengan data itu supervisior dapat berbincang dengan guru tentang kesulitan yang dihadapi guru-guru. pada kesempatan itu guru-guru dapat mengemukakan pengalaman-pengalaman yang berhasil dan hambatan-hambatan yang dihadapi serta meminta bantuan, dorongan dan mengikutsertakan.

Ada 3 macam bentuk perkunjungan kelas antara lain :
1.      Perkunjungan tanpa diberitahu (unannouncel visitation). Supervise datang secara tiba-tiba tanpa diberi tahu terlebih dahulu.
2.      Perkunjungan dengan cara memberitahu terlebih dahulu (annauncet visitat) biasanya telah  supervaisor telah memberikan jadwal perkunjungan sehingga pada hari dan jam berapa ia akan di kunjungi.
3.      Perkunjungan atas undangan guru (visit upon intitation). Perkunjungan seperti ini akan lebih baik, oleh karena itu guru akan punya usaha dan motivasi untuk mempersiapkan diri dan membuka diri agar dia dapat memperoleh balikan pengalaman baru dari hal perjumpaannya dengan supervise.
F.       Pertemuan pribadi dalam rangka supervisi
Percakapan pribadi ( individual comperence ) antara seorang supervaisor dengan seorang guru, dalam percakapan tersebut kedua-duanya berusaha berjuang dalam pengertian tentang mengajar yang baik, yang dipercayakan adalah usaha-usaha untuk memecahkan  problem-problem yang dihadapi oleh guru dalam mengajar.

G.    Rapat staff
Rapat staf dapat dilakukan untuk mencapai tujuan dari lembaga pendidikan, adapun macam-macam rapat staf, yaitu menurut tingkatannya waktu dan menurut bentuknya, rapat biasanya dilakukan antara kepala sekolah, staf tata usaha, pengawasannya (guru) dan staf komite.

H.     Tekhnik-tekhnik peningkatan
Profesionalisme menjadi tuntutan dari setiap pekerjaan,apalagi profesi guru sehari-hari menangani benda hidup yang berupa anak-anak atau siswa dengan berbagai karakteristik yang masing-masing tidak sama. Pekerjaan sebagai guru menjadi berat tatkala menyangkut peningkatan kemampuan anak didik.
Guru yang professional adalah mereka yang memiliki kemampuan professional dengan berbagai kapasitasnya sebagai pendidik. Study  yang dilakukan Ace Suryani menuunjukkan bahwa guru yang bermutu dapat diukur dengan lima indkator yaitu
1.         Kemampuan professional (professional capacity), sebagaimana terukur diijazah, jenjang pendidikan, jabatan, dan golongan, serta pelatihan.
2.         Upaya professional (professional efforts), sebagaimana terukur dari kegiatan mengajar, pengabdian dan penelitian.
3.         Waktu yang dicurahkan untuk kegiatan professional ( teacher's time), sebagai terukur dari masa jabatan, pengalaman mengajar, serta lainnya.
4.         Kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya ( link and match), sebagaimana terukur dari mata pelajaran yang diambilnya, apakah telah sesuai dengan spesialisasinya atau tidak.
5.         Tingkat kesejahteraan (prosperiousity), sebagaimana terukur dari sukses,   upah, honor, atau penghasilan rutinnya. Tingkat kesejahteraan yang rendah bisa mendorong seorang pendidik untuk melakukan pekerjaan sambilan, dan bilamana kerja sama itu sukses, bisa jadi profesi mengajarnya berubah menjadi sambilan.
I.     Peranan supervisi
Seorang supervisior dapat dilihat dari tugas yang dikerjakannya. Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor tampak jelas perannya. Sesuai dengan pengertian hakiki supervisi, maka supervisi berperan atau bertugas memberi support (supporting), membantu (assisting) dan mengikutsertakan (sharing).
Selain itu, seorang supervisior bertugas sebagai:
- Koordinator.
             - Konsultan.
- Pemimpin Kelompok.
- Evaluator .
Tugas lain bagi seorang supervisi atau pengawas akademik, yakni mencakup hal-hal berikut:
1. Mengupayakan agar guru lebih bersungguh-sungguh dan bekerja lebih keras serta bersemangat dalam mengajar.
2. Mengupayakan agar sistem pengajaran ditata sedemikian rupa sehingga berlaku prinsip belajar tuntas, yaitu guru harus berupaya agar murid benar-benar menguasai apa yang telah diajarkan dan tidak begitu saja melanjutkan pengajaran ke tingkat yang lebih tinggi jika murid belum tuntas penguasaannya.
3. Memberikan tekanan (pressure) terhadap guru untuk mencapai tujuan pengajarannya, dengan disertai bantuan (support) yang memadai bagi keberhasilan tugasnya.
4. Membuat kesepakatan dengan guru maupun dengan sekolah mengenai jenis dan tingkatan dari target output yang harus mereka capai sehubungan dengan keberhasilan pengajaran.
5. Secara berkala melakukan pemantauan dan penilaian (assessment) terhdap keberhasilan (efektifitas) mengajar guru, khususnya dalam kaitannya dengan kesepakatan yang dibuat pada butir (4) di atas.
6. Membuat persiapan dan perencanaan kerja dalam rangka pelaksanaan butir-butir di atas, menyusun dokumentasi dan laporan bagi setiap kegiatan, serta mengembangkan sistem pengelolaan data hasil pengawasan.
7. Melakukan koordinasi serta membuat kesepakatan-kesepakatan yang diperlukan dengan kepala sekolah, khususnya dalam hal yang berkenaan dengan pemantauan dan pengendalian efektifitas pengajaran serta hal yang berkenaan dengan akreditas sekolah yang bersangkutan.

J.         Supervisor Sebagai Pemimpin
ia dapat memimpin sejumlah staf guru dalm mengembangkan potensi kelompok, pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru-guru secara bersama. Sebagai pemimpin kelompok ia dapat mengembangkan keterampilan  dan kiat-kiat  dalam bekerja untuk kelompok (working for the group ) bekerja dengan kelompok (working with the group ) dan bekerja melalui  kelompok (working through the group ).

K.          Supervisor Sebagai Evaluator
ia dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum  yang sedang dikembangkan. Ia juga belajar menatap dirinya sendiri ia  dibantu dalam merefleksikan dirinya,  yaitu konsep dirinya (self concept) ide/cita-cita dirinya, (self idea ), realitas dirinya (self reality). P.Wiggens 1965 misalnya, d akhir semester  ia dapat mengadakan.

L.          Supervisor Sebagai Pembina
ia dapat mengkoordinasi  program  belajar  mengajar ,tugas -tugas  anggota staf sebagai  kegaiatan yang berbeda-beda  diantara guru.contohnya  konkret mengkoordinasi  tugas belajar suatu mata pelajaran  oleh berbagai guru.

M.          Supervisor Sebagai Komunikator
Ia dapat memberi bantuan bersama,  mengkonsultasikan masalah yang dialami  guru baik secara  individual maupun kelompok.misalnya kesulitan dalam mengatasi anak yang sulit belajar,yang menyebabkan guru sendiri sulit  mengatasi dalam tahap belajar. Evaluasi diri sendiri  dengan memperoleh umpan  balik dari setiap peserta didik  yang dapat dipakai  sebagai bahan untuk memperbaiki dan meningkat kan diri.
Yang harus diubah ialah unjuk kerja para pembina pendidikan (supervisor) yang memakai pola lama dan kebiasaan memberi pengarahan .dala iklim demokrasi ,harus ada reformasi unjuk  kerja  para pembina pendidikan seperti yang diungkap kan oleh Kimball Wiles (1955 ).ia menegaskan peranan  severvisor ialah menbantu  memberi support dan mengikut serta kan ,bukan mengarahkan terus -menerus .kalau mengarahkan terus-menerus maka  tidak demokratis ,juga tidak memberi kesempatan  untuk guru-guru  belajar berdiri sendiri (otonom ) dalam arti profesional .guru tidak diberi kesempatan untuk berdiri sendiri  atas tanggung  jawab nya sendiri .pada hal ciri-ciri dari guru profesional  ialah  guru yang memiliki otonomi dalam arti bebas mengembangkan diri sendiri atas kesadaranya sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

(James A.F Stoner, Management, Prentice/ Hall International, Inc., Englewood Cliffs, New York, 1982, halaman 8). http://attarperdana.blogspot.com diunduh 3 februari 2013
http://www.sarjanaku.com/2011/05/supervisi-pendidikan.html. diupload 3 februari 2013
Arikunto, Suharsimi.2009. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta : Aditya Media.
Pidarta, Made. Manajemen Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bina Aksara.
Purwanto, Ngalim. 2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

0 komentar:

Posting Komentar