Chat disini

Kamis, 09 Juli 2009

sering-seringlah mengingat kematian....

"Perbayaklah kalian mengingat pemutus kelezatan." (HR At-Tirmidzi no.2307, An-Nasa'i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikj Al-Bani rahimaullahu berkata tentng jhadits ini, "Hasan Shahih.")

Umar Ibnul Khaththab, mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "sering-seringlah kalian ingat akan sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan ini". Ya Rasulullah, apa itu sesuatu yang melenyapkan kenikmatan-kenikmatan itu?" Beliau menjawab, "Kematian".

"Ketika kami sedang duduj bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Anshar. Setelah mengucap salam kepada beliau, ia bertanya,"Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik itu?" Beliau menjawab, "yang paling baik akhlaknya". Ia bertanya,"Siapakah orang yang paling pintar?" Beliau menjawab, "Yang paling sering ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut kematian apa yang terjadi sesudahnya. Mereka itulah orang yang paling pintar"(ath-Thabrani dan Ibnu Majah)

Rasulullah memberitahukan,"Orang pintar ialah orang yang mau mengoreksi dirinya sendiri dan bernama untuk kepentingan akherat nanti. Dan orang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi berharap-harap terhadap Allah."(at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan ath-Thabrani)

"Sering-seringlah mengingat kematian, karena sesungguhnya hal itu bisa membersihkan dosa-dosa dan dapat membuat bersikap zuhud terhadap dunia". (HR.Tirmidzi)

Amirul mukminin Umar ibnul Khaththab sering membaca bait-bait syair ini, " Tidak ada sesuatu pun yang kamu lihat gemerlap itu abadi karena yang abadi hanyalah Tuhan harta dan anak-anakmu akan lenyap Harmuz pada suatu hari pernah tidak membutuhkan simpanan kekayaannya.Kaum 'Aad sudah pernah ingin abadi, tetapi gagal. Begitupula dengan Sulaiman sang pengendali angin, manusia dan jin Mana raja yang dulu pernah paling berjaya di muka bumi?Di akherat kelak semua akan tunduk dan tak mampu berbohog.

Kehidupan tidak lepas dari suka dan duka, atau nikmat dan penderitaan. Ketika berduka dan menderita, mengingat, kematian membantu mempermudah menghadpinya, karena apa yang dialami itu tidak akan abadi. Ketika sedang dalam keadaan suka mengenyam nikmat, mengingat kematian membuat tidak tertipu oleh kenikmatan-kenikmatan yang tengah ia rasakan. Kematian tidak terikat umur tertentu, waktu tertentu. Al-Hasan Al-Basri rahimaullahu berkata,,"Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat kematian melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya."

Yazid ar-Raasyi pernah berkata pada dirinya sendiri, "Yazid, yazid. Celaka, kamu! setelah kamu nanti tiada siapa yang mau shalat atas namamu? dan siapa yang bersedia memintakan keridhaan Allah atas namamu?" Selanjutnya ia mengarakan, "Wahai manusia, kenapa kalian tidak mengangis meratapi sisa hidup kalian yang tinggal tidak berapa lama lagi? Kalian akan dijemput sang maut, dan ditunggu kubur yang beralaskan tanah dan bertemankan cacing-cacing". Merasa dicekam oleh rasa takut yang luar biasa, Yazid pun menangis lalu jatuh pingsan.

Kata at-Taimi,"Ada dua hal yang pasti akan melenyapkan kematian dunia dariku. Yakni, ingat kematian, dan juga ketika berada di hadapan Allah Ta'la. Jiks Sufyan ats-Tsauri sedang mengingat kematian, selama berhari-hari ia kelihatan sangat bersedih. Wajahnya tampak murung, setiap kali ditanya tentang sesuatu ia hanya menjawab, "Saya tidak tahu, saya tidak tahu."

Kematian adalah janji yang pasti aka ditepati. Kematian adalah hakim yang adil, kematian adalah luka, kematian adalah membuat mata mengangis, kematian mengakibatkan perpisahan, kematian akan melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. Dan kematian memutuskan harapan serta angan-angan. "Dan Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat)." (Al-Hasr :18)

Al-Hafifzh Ibnu Katsir Ra menerangkan,"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah ama shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian". Tiada yang melibihi dahsyatnya kematian bagi seorang selain sesudah kematian itu sendiri. Tak ada pilihan lain, surga atau neraka. Saat memilihnya adalah sekarang bagaimana menjalani kehidupan di dunia inilah, penetu kelak... Sumber : MA ( Mutiara AmalY)

0 komentar:

Posting Komentar