Chat disini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 10 Maret 2010

Wanita penghuni syurga itu....

Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah Muraja’ah: ustadz Abu Salman

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’

Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’

Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.

Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya” Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam itulah….dst”

Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?

Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?

Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.

Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan – semoga Allah Memberi mereka petunjuk -.

Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.

Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat. Salah satunya adalah dengan doa. Baik doa yang dipanjatkan sendiri, maupun meminta didoakan orang shalih yang masih hidup. Dan dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keistimewaan berupa doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah.

Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.”

Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya???

Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.”

Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik.

Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka, Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)

Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.

Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap.

Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya sebagai seorang muslimah?

Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.

Marji’: Syarah Riyadhush Shalihin (terj). Jilid 1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin. Cetakan ke-3. Penerbit Darul Falah. 2007 M.

Artikel muslimah.or.id

Cantiknya Bidadari....

Penulis: Ummu Ziyad Fransiska Mustikawati dan Ummu Rumman Siti Fatimah Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Terheran-heran. Tapi itulah kenyataan. Seseorang yang mungkin dengan mudahnya – melepas jilbabnya dan merasa enjoy mempertontonkan kecantikannya. Entah dengan alasan apa, kepuasan pribadi, materi dunia, popularitas yang semuanya berujung pada satu hal, yaitu hawa nafsu yang tak terbelenggu. Padahal… nun di surga sana, terdapat makhluk yang begitu cantik yang belum pernah seorang pun melihat ada makhluk secantik itu. Dan mereka sangat pemalu dan terjaga sehingga kecantikan mereka hanya dinikmati oleh suami-suami mereka di surga. Berikut ini adalah kumpulan ayat dan hadits yang menceritakan tentang para bidadari surga.

Harumnya Bidadari

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kecantikan Fisik

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yang pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.” (HR. Bukhari dan Muslim) ???????? ??????????????? ??????? ????? “Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (Qs. Ad-Dukhan: 54) Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari� haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yang sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah. Al-Hasan berpendapat bahwa haura adalah wanita yang memiliki mata dengan putih mata yang sangat putih dan hitam mata yang sangat hitam.

Sopan dan Pemalu

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan “menundukkan pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur’an, yaitu: “Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58) “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Qs. Ash-Shaffat: 48) “Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.” Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa pandangan para bidadari surgawi hanya tertuju untuk suami mereka, sehingga mereka tidak pernah melirik lelaki lain.

Putihnya Bidadari

Allah Ta’ala berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. ar-Rahman: 58) al-Hasan dan mayoritas ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah bidadari-bidadari surga itu sebening yaqut dan seputih marjan. Allah juga menyatakan,“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam kemah.” (Qs. Ar-Rahman: 72) Maksudnya mereka itu dipingit hanya diperuntukkan bagi para suami mereka, sedangkan orang lain tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu. Mereka berada di dalam kemah. Baiklah…ini adalah sedikit gambaran yang Allah berikan tentang bidadari di surga. Karena bagaimanapun gambaran itu, maka manusia tidak akan bisa membayangkan sesuai rupa aslinya, karena sesuatu yang berada di surga adalah sesuatu yang tidak/belum pernah kita lihat di dunia ini. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setelah mengetahui sifat fisik dan akhlak bidadari, maka bukan berarti bidadari lebih baik daripada wanita surga. Sesungguhnya wanita-wanita surga memiliki keutamaan yang sedemikian besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan lagi, seorang manusia telah Allah ciptakan dengan sebaik-baik rupa, “Dan manusia telah diciptakan dengan sebaik-baik rupa.” (Qs. At-Tiin: 4) Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Beliau shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.” Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.” (HR. Ath Thabrani) Subhanallah. Betapa indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah perkataan yang seharusnya membuat kita, wanita dunia, menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menjadi wanita shalihah. Berusaha untuk menjadi sebaik-baik perhiasan. Berusaha dengan lebih keras untuk bisa menjadi wanita penghuni surga.. Nah, tinggal lagi, apakah kita mau berusaha menjadi salah satu dari wanita penghuni surga? Maraji’: Mukhtashor Hadil al-Arwah ila Bilad al-Afrah (Tamasya ke Surga) (terj), Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah. ***

Artikel muslimah.or.id

Sabtu, 30 Januari 2010

Saudariku, Bagaimanakah Engkau Bergaul?

Berlebihan dalam bergaul adalah penyakit parah yang menyebabkan segala maksiat. Berapa banyak kenikmatan yang dihilangkan oleh percampuran dan pergaulan? Berapa banyak permusuhan yang ditanamkan oleh pergaulan? Berapa banyak pergaulan menanamkan di dalam hati pengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan gunung yang kukuh, sedangkan pengaruh tersebut di dalam hati tidak dapat hilang?

Maka, di dalam pergaulan yang berlebihan terdapat kerugian dunia dan akhirat. Hendaknya seorang hamba hanya mengambil pergaulan sekadar kebutuhan dan menjadikan manusia di dalam pergaulan itu menjadi empat bagian. Bila salah satu bagian bercampur dengan bagian lainnya dan tidak membedakan bagian-bagian itu, maka akan masuk kepadanya kejahatan.

Pertama, teman bergaul itu laksana makanan, tidak mungkin bisa ditinggalkan pada waktu siang dan malam. Apabila ia telah mengambil kebutuhannya dari orang itu, ia akan meninggalkan pergaulan dengannya. Apabila ia membutuhkannya lagi, maka ia akan kembali padanya, begitu seterusnya. Orang macam ini lebih kuat dari api yang merah. Mereka itu adalah para ulama yang tahu tentang Allah dan perintah-Nya, tipuan-tipuan musuh-Nya, penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya. Bergaul dengan kelompok ini membawa keuntungan yang sebesar-besarnya.

Kedua, teman bergaul itu laksana obat. Yaitu, yang dibutuhkan ketika datang penyakit. Maka, selama engkau sehat, engkau tidak perlu bergaul dengannya. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh tidak, pasti kamu bergaul dengannya dalam kemaslahatan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau orang yang dibutuhkan dalam macam-macam hubungan pekerjaan, hubungan sosial, bermusyawarah dan pengobatan dan lain-lainnya. Apabila engkau telah menyelesaikan kebutuhanmu dari bergaul dengan kelompok ini, maka akan ada kelompok ketiga.

Ketiga, mereka adalah orang yang bergaul dengannya bagaikan penyakit dengan berbagai macam tingkatan, bentuk, kekuatan dan kelemahannya. Di antara mereka ada yang bergaul dengannya bagaikan penyakit yang ganas dan penyakit menahun. Teman seperti ini tidak memberikan keuntungan baik dalam agama maupun dalam kehidupan dunia. Malah, jika engkau bergaul dengannya, engkau akan merugi dalam agama dan dunia atau salah satu dari keduanya. Orang macam ini, jika engkau bergaul dengannya dan berhubungan erat denganmu, maka ia bagaikan penyakit kematian yang sangat mengerikan.

Di antara mereka ada yang bagaikan penyakit gigi, sangat menyiksamu. Jika ia meninggalkan kamu, maka rasa sakitnya akan hilang. Ada juga teman bergaul yang seperti penyakit demam. Yaitu, orang yang berat bicara dan dibenci pikirannya. Dia adalah orang yang tidak baik pembicaraannya sehingga engkau dapat mengambil manfaat (dari pembicaraannya). Dia tidak pandai mendengarkan sehingga ia dapat mengambil manfaat darimu. Dia tidak mengetahui dirinya, sehingga ia metelakkannya sesuai posisinya.

Bahkan, kalau berbicara, maka bicaranya seperti tongkat, memukul hati para pendengar. Sedangkan, ia merasa bangga dan senang dengan perkatannya. Maka, dia bagaikan mengeluarkan kentut dari mulutnya setiap kali berbicara. Sedangkan, dia menyangka bahwa ia bagaikan parfum yang mengharumkan majelis. Apabila dia diam, maka ia lebih berat dari setengah penggilingan padi yang besar yang tidak kuat di bawa atau ditarik di atas tanah.

Imam Syafi’i berkata, “Tidak ada seorangpun yang duduk di sampingku dari orang yang berat kecuali aku dapatkan di sisi tempat ia berada lebih rendah dari sisi yang lain.” Suatu hari aku melihat di sisi syaikh kami (Ibn Taimiyah -guru Ibnul Qoyyim) seorang dari jenis ini. Syaikh membawanya, sedangkan saya sudah melemah kekuatanku untuk membawanya. Maka, syaikh menoleh kepadaku dan berkata, ‘Mempergauli orang yang berat bagaikan demam empat (demam yang datang setiap hari keempat). Akan tetapi, ruh kita telah kecanduan penyakit demam. Sehingga, sudah menjadi kebiasaannya.’ Atau sebagaimana yang ia katakan.”

Secara umum, mempergauli penentang demam bagi ruh adalah perkara yang terhamparkan dan mesti ada. Barangsiapa yang dunia tidak berpihak kepadanya, yaitu dengan diuji dengan satu orang semacam ini, maka dia tidak harus mempergauli dan mencampurinya. Hendaklah ia bergaul dengan orang jenis ini dengan baik sehingga Allah menjadikan baginya jalan keluar.

Keempat, teman bergaul yang hanya akan mendatangkan kebinasaan bagaikan memakan racun. Jika kebetulan menemaninya, maka hendaklah ia makan penawar racun. Kalau diberikan taufik akan mendapatkan obat yang menyelamatkan dari racun ini, yaitu seorang teman yang shalih yang akang menyelamatkan dari musibah ini. Kalau tidak (mendapatkan teman yang shalih), maka lebih baik di-ta’ziyah (karena kebinasaannya). Alangkah banyaknya orang macam ini di kalangan manusia, semoga Allah tidak meperbanyak orang macam ini. Mereka itu adalah ahli bid’ah dan kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang menentang sunnah Rasulullah bahkan menyerukan kepada yang sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang mencegah dari jalan Allah dan mengharapkannya bengkok. Maka, mereka menjadikan bid’ah menjadi sunnah dan menjadikan sunnah mejadi bid’ah. Mereka menjadikan yang ma’ruf menjadi munkar dan menjadikan yang munkar menjadi ma’ruf.

Jika kamu sucikan tauhid diantara mereka, mereka mengatakan, “Kamu mencela kemuliaan para wali dan orang-orang saleh”. Jika kamu murnikan ittiba’ mengikuti Rasulullah, mereka berkata, “Kamu telah memusnahkan para ulama yang patut diikuti.” Jika kamu menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dan sifat-sifat yang disifatkan oleh Rasulullah tanpa berlebihan dan kekurangan, mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang musyabbihin (yang menyerupakan Allah).”

Jika kamu memerintahkan sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dari perbuatan baik dan kamu melarang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya larang dari perbuatan munkar, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang yang terkena fitnah”. Jika kamu mengikuti sunnah dan meninggalkan yang bertentangan dengannya, maka mereka mengatakan, “Kamu termasuk orang-orang ahli bid’ah yang menyesatkan”.

Apabila kamu memutuskan tali keduniaan karena hanya beribadah menuju Allah dan kamu tinggalkan mereka berkubang dalam bangkai dunia, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah termasuk orang-orang yang terkacaukan”. Jika kamu meninggalkan apa yang telah kamu kerjakan dan kamu mengikuti hawa nafsu mereka, maka kamu di sisi Allah termasuk orang-orang yang merugi dan di sisi mereka termasuk orang-orang yang munafik.

Pegangan yang terkuat adalah hanya dengan mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya dengan cara membuat marah mereka. Jangan pedulikan teguran-teguran dan cacian-cacian mereka. Jangan hiraukan celaan dan kebencian mereka. Karena itu adalah inti dari kesempurnaanmu, sebagaimana dikatakan dalam syair.

Dan apabila datang pencelaanku dari orang-orang yang kurang, maka itu adalah saksi sesunnguhnya aku yang lebih baik.

Dan sungguh menambahkan kecintaanku kepada diriku, bahwa diriku dibenci oleh orang yang tidak berguna.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjuan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan biak sampai hari pembalasan.

Dikutip dari kitab Tafsir Surah Mu’awadzatain, Surat Al-Falaq dan An-Naas Melindungi dari Kejahatan Jin dan Manusia, Imam Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah, Akbar,2002

***

Artikel muslimah.or.id

Senin, 30 November 2009

ini gambar tim yang terdiri dari anak-anak yang bertugas menimbang daging qurban.... alhamdulillah sekolah nuurul qur'an yang berdomisili di Ciangsana setiap tahunnya kami mengadakan pemotongan hewan kurban yang dilaksanakan Madrasah Nuurul qur'an, daging-daging hewan kurban tersebut berasal dari anak-anak sekolah yang mereka menabung setiap harinya, para guru-guru, orang tua wali murid, warga sekitar, juga orang-orang yang mempercayakan pemotongan hewan qurbannya disekolah nuurul qur'an ini... Dalam setiap pemotongan hewan qurban kami melibatkan semua anak murid juga para ibu dan bpk guru, dan masing-masing kami semua mendapatkan tugas nya... Seperti tugas nya ada yang sebagai tim timbang besar, timbang kecil, menguliti, mencacah, sampai distribusi, disini kami harus kompak untuk bisa menyelesaikan semua pemotongan hewan qurban dalam seharian.

Rabu, 11 November 2009

Hadith - Sahih Bukhari

Rabu, 28 Oktober 2009

Radio Sunnah

Mau tahu tentang radio sunnah klik disini

Sabtu, 24 Oktober 2009

Visi :

Menjadi madrasah yang istiqomah mengajarkan ilmu syar’I dan ilmu dunia kepada siswa-siswinya sehingga melahirkan generasi yang beriman dan bertaqwa yang mempunyai bekal untuk akherat dan dunianya.

Misi :

1. Melaksanakan model pendidikan yang menggabungkan ilmu-ilmu syar’I dan ilmu dunia

2. Secara aktif mengamalkan dan mempraktekkan Al-Qur’an dan As Sunnah kedalam

kehidupan sehari-hari sehingga menjadi umat yang beriman dan bertaqwa (QS. Ali Imran ayat 133-139)

Tujuan:

1. Mengarahkan siswa-siswinya menjadi Generasi Rabbani yaitu umat yang insya Allah sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah subhanahuwata’ala (QS. Ali Imran ayat 79).

2. Memperkenalkan dan mengajarkan pemahaman AL-Qur’an dan As Sunnah serta

mempraktekkannya sejak usia remaja (QS. Maryam ayat 12-15).

3. Memberikan pendidikan gratis yang berkualitas kepada seluruh peserta didiknya

dengan mengutamakan kepada kaum dhuafa.

4. Membantu pemerintah dalam mencapai program wajib belajar 9 tahun.

Kurikulum :

Madrasah Nuurul Qur’an berkomitmen menjadikan Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai sandaran utama disemua mata pelajaran yang diajarkan. Baik ilmu syar’I maupun ilmu dunia.Sekaligus menggabungkan kurikulum yang dikeluarkan oleh Departemen Agama dan KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran ) yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan.Secara umum mata pelajaran yang diajarkan sama dengan mata pelajaran sekolah umum yang sederajat. Yang membedakan adalah muatan syar’I yaitu teori-teori Allah dan Rasulnya menduduki prioritas utama. Allah berfirman di QS Shaad ayat 45-46. “ Dan ingatlah hamba-hamba kami, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya kami telah mensucikan mereka dengan menganugrahkan kepada mereka akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan manusia kepada negeri akherat”. Allah juga berfirman di QS An Naml ayat 84 bahwa Ilmu yang paling Tinggi adalah Ilmu Allah”…. Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayatKu, padahal ilmu kamu tidak meliputinya…”

Tenaga Pendidik:

Madrasah Nuurul Qur’an menggunakan konsep yang berbeda dalam merekrut tenaga pendidiknya. Dengan komitmen memberikan pendidikan gratis yang bekualitas maka konsep yang kami tawarkan kepada tenaga pendidik adalah menawarkan lading amal. Madrasah Nuurul Qur’an menjadi wadah untuk tenaga pendidik mengeluarkan zakat ilmu mereka, Alhamdulillah dengan konsep ini kami mendapatkan tenaga pendidik yang beragam.

Berasal dari berbagai macam anggota masyarakat dengan latar belakang kailmuan yang beragam, mereka adalah orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan kemanusiaan berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah yang dipahami oleh Salafus shalih.