Chat disini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 30 Januari 2010

Saudariku, Bagaimanakah Engkau Bergaul?

Berlebihan dalam bergaul adalah penyakit parah yang menyebabkan segala maksiat. Berapa banyak kenikmatan yang dihilangkan oleh percampuran dan pergaulan? Berapa banyak permusuhan yang ditanamkan oleh pergaulan? Berapa banyak pergaulan menanamkan di dalam hati pengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan gunung yang kukuh, sedangkan pengaruh tersebut di dalam hati tidak dapat hilang?

Maka, di dalam pergaulan yang berlebihan terdapat kerugian dunia dan akhirat. Hendaknya seorang hamba hanya mengambil pergaulan sekadar kebutuhan dan menjadikan manusia di dalam pergaulan itu menjadi empat bagian. Bila salah satu bagian bercampur dengan bagian lainnya dan tidak membedakan bagian-bagian itu, maka akan masuk kepadanya kejahatan.

Pertama, teman bergaul itu laksana makanan, tidak mungkin bisa ditinggalkan pada waktu siang dan malam. Apabila ia telah mengambil kebutuhannya dari orang itu, ia akan meninggalkan pergaulan dengannya. Apabila ia membutuhkannya lagi, maka ia akan kembali padanya, begitu seterusnya. Orang macam ini lebih kuat dari api yang merah. Mereka itu adalah para ulama yang tahu tentang Allah dan perintah-Nya, tipuan-tipuan musuh-Nya, penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya. Bergaul dengan kelompok ini membawa keuntungan yang sebesar-besarnya.

Kedua, teman bergaul itu laksana obat. Yaitu, yang dibutuhkan ketika datang penyakit. Maka, selama engkau sehat, engkau tidak perlu bergaul dengannya. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh tidak, pasti kamu bergaul dengannya dalam kemaslahatan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau orang yang dibutuhkan dalam macam-macam hubungan pekerjaan, hubungan sosial, bermusyawarah dan pengobatan dan lain-lainnya. Apabila engkau telah menyelesaikan kebutuhanmu dari bergaul dengan kelompok ini, maka akan ada kelompok ketiga.

Ketiga, mereka adalah orang yang bergaul dengannya bagaikan penyakit dengan berbagai macam tingkatan, bentuk, kekuatan dan kelemahannya. Di antara mereka ada yang bergaul dengannya bagaikan penyakit yang ganas dan penyakit menahun. Teman seperti ini tidak memberikan keuntungan baik dalam agama maupun dalam kehidupan dunia. Malah, jika engkau bergaul dengannya, engkau akan merugi dalam agama dan dunia atau salah satu dari keduanya. Orang macam ini, jika engkau bergaul dengannya dan berhubungan erat denganmu, maka ia bagaikan penyakit kematian yang sangat mengerikan.

Di antara mereka ada yang bagaikan penyakit gigi, sangat menyiksamu. Jika ia meninggalkan kamu, maka rasa sakitnya akan hilang. Ada juga teman bergaul yang seperti penyakit demam. Yaitu, orang yang berat bicara dan dibenci pikirannya. Dia adalah orang yang tidak baik pembicaraannya sehingga engkau dapat mengambil manfaat (dari pembicaraannya). Dia tidak pandai mendengarkan sehingga ia dapat mengambil manfaat darimu. Dia tidak mengetahui dirinya, sehingga ia metelakkannya sesuai posisinya.

Bahkan, kalau berbicara, maka bicaranya seperti tongkat, memukul hati para pendengar. Sedangkan, ia merasa bangga dan senang dengan perkatannya. Maka, dia bagaikan mengeluarkan kentut dari mulutnya setiap kali berbicara. Sedangkan, dia menyangka bahwa ia bagaikan parfum yang mengharumkan majelis. Apabila dia diam, maka ia lebih berat dari setengah penggilingan padi yang besar yang tidak kuat di bawa atau ditarik di atas tanah.

Imam Syafi’i berkata, “Tidak ada seorangpun yang duduk di sampingku dari orang yang berat kecuali aku dapatkan di sisi tempat ia berada lebih rendah dari sisi yang lain.” Suatu hari aku melihat di sisi syaikh kami (Ibn Taimiyah -guru Ibnul Qoyyim) seorang dari jenis ini. Syaikh membawanya, sedangkan saya sudah melemah kekuatanku untuk membawanya. Maka, syaikh menoleh kepadaku dan berkata, ‘Mempergauli orang yang berat bagaikan demam empat (demam yang datang setiap hari keempat). Akan tetapi, ruh kita telah kecanduan penyakit demam. Sehingga, sudah menjadi kebiasaannya.’ Atau sebagaimana yang ia katakan.”

Secara umum, mempergauli penentang demam bagi ruh adalah perkara yang terhamparkan dan mesti ada. Barangsiapa yang dunia tidak berpihak kepadanya, yaitu dengan diuji dengan satu orang semacam ini, maka dia tidak harus mempergauli dan mencampurinya. Hendaklah ia bergaul dengan orang jenis ini dengan baik sehingga Allah menjadikan baginya jalan keluar.

Keempat, teman bergaul yang hanya akan mendatangkan kebinasaan bagaikan memakan racun. Jika kebetulan menemaninya, maka hendaklah ia makan penawar racun. Kalau diberikan taufik akan mendapatkan obat yang menyelamatkan dari racun ini, yaitu seorang teman yang shalih yang akang menyelamatkan dari musibah ini. Kalau tidak (mendapatkan teman yang shalih), maka lebih baik di-ta’ziyah (karena kebinasaannya). Alangkah banyaknya orang macam ini di kalangan manusia, semoga Allah tidak meperbanyak orang macam ini. Mereka itu adalah ahli bid’ah dan kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang menentang sunnah Rasulullah bahkan menyerukan kepada yang sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang mencegah dari jalan Allah dan mengharapkannya bengkok. Maka, mereka menjadikan bid’ah menjadi sunnah dan menjadikan sunnah mejadi bid’ah. Mereka menjadikan yang ma’ruf menjadi munkar dan menjadikan yang munkar menjadi ma’ruf.

Jika kamu sucikan tauhid diantara mereka, mereka mengatakan, “Kamu mencela kemuliaan para wali dan orang-orang saleh”. Jika kamu murnikan ittiba’ mengikuti Rasulullah, mereka berkata, “Kamu telah memusnahkan para ulama yang patut diikuti.” Jika kamu menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dan sifat-sifat yang disifatkan oleh Rasulullah tanpa berlebihan dan kekurangan, mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang musyabbihin (yang menyerupakan Allah).”

Jika kamu memerintahkan sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dari perbuatan baik dan kamu melarang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya larang dari perbuatan munkar, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang yang terkena fitnah”. Jika kamu mengikuti sunnah dan meninggalkan yang bertentangan dengannya, maka mereka mengatakan, “Kamu termasuk orang-orang ahli bid’ah yang menyesatkan”.

Apabila kamu memutuskan tali keduniaan karena hanya beribadah menuju Allah dan kamu tinggalkan mereka berkubang dalam bangkai dunia, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah termasuk orang-orang yang terkacaukan”. Jika kamu meninggalkan apa yang telah kamu kerjakan dan kamu mengikuti hawa nafsu mereka, maka kamu di sisi Allah termasuk orang-orang yang merugi dan di sisi mereka termasuk orang-orang yang munafik.

Pegangan yang terkuat adalah hanya dengan mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya dengan cara membuat marah mereka. Jangan pedulikan teguran-teguran dan cacian-cacian mereka. Jangan hiraukan celaan dan kebencian mereka. Karena itu adalah inti dari kesempurnaanmu, sebagaimana dikatakan dalam syair.

Dan apabila datang pencelaanku dari orang-orang yang kurang, maka itu adalah saksi sesunnguhnya aku yang lebih baik.

Dan sungguh menambahkan kecintaanku kepada diriku, bahwa diriku dibenci oleh orang yang tidak berguna.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjuan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan biak sampai hari pembalasan.

Dikutip dari kitab Tafsir Surah Mu’awadzatain, Surat Al-Falaq dan An-Naas Melindungi dari Kejahatan Jin dan Manusia, Imam Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah, Akbar,2002

***

Artikel muslimah.or.id

Senin, 30 November 2009

ini gambar tim yang terdiri dari anak-anak yang bertugas menimbang daging qurban.... alhamdulillah sekolah nuurul qur'an yang berdomisili di Ciangsana setiap tahunnya kami mengadakan pemotongan hewan kurban yang dilaksanakan Madrasah Nuurul qur'an, daging-daging hewan kurban tersebut berasal dari anak-anak sekolah yang mereka menabung setiap harinya, para guru-guru, orang tua wali murid, warga sekitar, juga orang-orang yang mempercayakan pemotongan hewan qurbannya disekolah nuurul qur'an ini... Dalam setiap pemotongan hewan qurban kami melibatkan semua anak murid juga para ibu dan bpk guru, dan masing-masing kami semua mendapatkan tugas nya... Seperti tugas nya ada yang sebagai tim timbang besar, timbang kecil, menguliti, mencacah, sampai distribusi, disini kami harus kompak untuk bisa menyelesaikan semua pemotongan hewan qurban dalam seharian.

Rabu, 11 November 2009

Hadith - Sahih Bukhari

Rabu, 28 Oktober 2009

Radio Sunnah

Mau tahu tentang radio sunnah klik disini

Sabtu, 24 Oktober 2009

Visi :

Menjadi madrasah yang istiqomah mengajarkan ilmu syar’I dan ilmu dunia kepada siswa-siswinya sehingga melahirkan generasi yang beriman dan bertaqwa yang mempunyai bekal untuk akherat dan dunianya.

Misi :

1. Melaksanakan model pendidikan yang menggabungkan ilmu-ilmu syar’I dan ilmu dunia

2. Secara aktif mengamalkan dan mempraktekkan Al-Qur’an dan As Sunnah kedalam

kehidupan sehari-hari sehingga menjadi umat yang beriman dan bertaqwa (QS. Ali Imran ayat 133-139)

Tujuan:

1. Mengarahkan siswa-siswinya menjadi Generasi Rabbani yaitu umat yang insya Allah sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah subhanahuwata’ala (QS. Ali Imran ayat 79).

2. Memperkenalkan dan mengajarkan pemahaman AL-Qur’an dan As Sunnah serta

mempraktekkannya sejak usia remaja (QS. Maryam ayat 12-15).

3. Memberikan pendidikan gratis yang berkualitas kepada seluruh peserta didiknya

dengan mengutamakan kepada kaum dhuafa.

4. Membantu pemerintah dalam mencapai program wajib belajar 9 tahun.

Kurikulum :

Madrasah Nuurul Qur’an berkomitmen menjadikan Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai sandaran utama disemua mata pelajaran yang diajarkan. Baik ilmu syar’I maupun ilmu dunia.Sekaligus menggabungkan kurikulum yang dikeluarkan oleh Departemen Agama dan KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran ) yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan.Secara umum mata pelajaran yang diajarkan sama dengan mata pelajaran sekolah umum yang sederajat. Yang membedakan adalah muatan syar’I yaitu teori-teori Allah dan Rasulnya menduduki prioritas utama. Allah berfirman di QS Shaad ayat 45-46. “ Dan ingatlah hamba-hamba kami, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya kami telah mensucikan mereka dengan menganugrahkan kepada mereka akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan manusia kepada negeri akherat”. Allah juga berfirman di QS An Naml ayat 84 bahwa Ilmu yang paling Tinggi adalah Ilmu Allah”…. Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayatKu, padahal ilmu kamu tidak meliputinya…”

Tenaga Pendidik:

Madrasah Nuurul Qur’an menggunakan konsep yang berbeda dalam merekrut tenaga pendidiknya. Dengan komitmen memberikan pendidikan gratis yang bekualitas maka konsep yang kami tawarkan kepada tenaga pendidik adalah menawarkan lading amal. Madrasah Nuurul Qur’an menjadi wadah untuk tenaga pendidik mengeluarkan zakat ilmu mereka, Alhamdulillah dengan konsep ini kami mendapatkan tenaga pendidik yang beragam.

Berasal dari berbagai macam anggota masyarakat dengan latar belakang kailmuan yang beragam, mereka adalah orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan kemanusiaan berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah yang dipahami oleh Salafus shalih.

Sabtu, 11 Juli 2009

Cinta Dunia

Di antara siksa dunia yang paling menyakitkan ialah pemecah belahan persatuan, perpecahan hati dan kemiskinan diletakkan di pulupuk matanya dan tidak meninggalkannya sedetik pun.

Di sebutkan dalam Jami’At-Tarmidzi hadits dari Abu Hurairah r.a dari Nabi Muhammah saw bersabda :Allah Tabarak wa ta’ala berfirman : ‘Hai anak Adam, berilah tumpuan beribadah kepada-Ku, niscaya Aku memenuhi dadamu dengan kekayaan, dan menutupi kemiskinanku. Jika engkau tidak melakukannya, Aku memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kemiskinanmu.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Termasuk siksa dunia yakni kesibukan hati dan badan menanggung siksa dunia, bersaing dengan manusia dalam meperebutkan dunia, dan memusuhi mereka, seperti dikatakan salah seorang dari generasi salaf,” Barangsiapa mencintai dunia, hendaklah menyiapkan dirinya untuk menanggung banyak musbah.”

Pecinta dunia tidak pernah terlepas dari tiga perkara: 1. Galau yang selalu berlaku 2. Kelelahan yang berkepanjangan 3. Kerugian yang tidak berakhir

Para pecinta dunia mendapatkan sesuatu, pasti jiwanya berhasrat mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi seperti disebutkan dalam hadits shahih dari nabi Muhammad saw yang bersabda: “ Jika anak Adam memiliki dua lembah berisi harta, pasti menginginkan lembah ketiga.”(Diriwayatkan Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Ahmad)

Jika anda ingin tahu penderitaan pemilik dunia, cobalah renungkan keadaan seorang kekasih idaman hatinya. Setiap kali ia bermaksud mendekat kepada kekassihnya, justru kekasihnya menjauh daripadanya, tidak menetap cintanya, mendiamkannya dan musuh datang kepadanya. Bersama kekasihnya, ia merasakan kehidupan yang sangat memenatkan. Ia memilih mati demi kekasihnya, padahal kekasihnya jarang sekali menepati janji, tidak peduli, memiliki kekasih-kekasih idaman lain, dan seringkali bergantian haluan seperti srigala. Bersamanya, ia mendapatkan keamanan dalam dirinya dan hartanya.

Meskipun begitu, ia tidak memiliki kesabaran darinya, tidak mendapatkan jalan kepada hiburan yang menghiburnya, dan ikatan yang selalu boleh bersama dengannya Jika seorang perindu tidak memiliki penderitaan lain selain penderitaan di atas, maka penderitaan diatas sudah cukup. Bagaimana jika ia dijauhkan dari semua kelezatan dan ia tersiksa oleh kesenangan yang menyibukkannya dari berusaha mencari bekal dan kemaslahatan masa depannya di akherat?

Bahwa barangsiapa mencintai sesuatu selain Allah, cintanya bukan untuk Allah, dan ia tidak menggunakan sesuatu tersebut untuk taat kepada Allah Ta’ala, maka Allah menyiksanya dengannya di dunia sebelum hari kiamat, seperti dikatakan dalam syair: “Engkau menjadi korban oleh apa saja yang engkau cintai. Oleh karena itu, pilih untuk dirimu siapa yang engkau pilih di udara.” Pada hari kiamat, Hakim Yang Maha Adil menghakimi semua orang yang mencintai sesuatu di dunia, dengan memberinya nikmat atau siksa. Oleh karena itu, Allah berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata : Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalam bersama-sama Rasul. Kemalangan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu kawan akrab. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari jalan al-Qur’an. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”(Al-Furqan: 27-29)

Bahwa barangsiapa mencintai sesuatu selain Allah swt, ia akan mendapatkan kerugian dan apa yang dicintainya baik yang dicintainya masih ada atau hilang. Jika apa uang dicintai sudah tidak ada lagi, ia di siksa dengan tidak adanya sesuatu yang dicintainya tersebut. Ia menderita sesuai dengan besar kecilnya ketergantungan hatinya dengannya.

Jika yang dicintainya masih ada, sebelum ia mendapatkannya ia sudah menderita, ia lelah setelah mendapatkannya dan rugi ketika hal tersebut hilang dari dirinya. Itu semua lebih besar daripada kenikmatan yang ia rasakan

“Dunia itu terkutuk dan terkutuk pula apa saja yang ada didalamnya kecuali zikir kepada Allah dan apa saja yang berpihak kepada Allah.”(Diriwayatkan At-Tirmidzi) Sumber : Mutiara Amaly

Kamis, 09 Juli 2009

sering-seringlah mengingat kematian....

"Perbayaklah kalian mengingat pemutus kelezatan." (HR At-Tirmidzi no.2307, An-Nasa'i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikj Al-Bani rahimaullahu berkata tentng jhadits ini, "Hasan Shahih.")

Umar Ibnul Khaththab, mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "sering-seringlah kalian ingat akan sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan ini". Ya Rasulullah, apa itu sesuatu yang melenyapkan kenikmatan-kenikmatan itu?" Beliau menjawab, "Kematian".

"Ketika kami sedang duduj bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Anshar. Setelah mengucap salam kepada beliau, ia bertanya,"Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik itu?" Beliau menjawab, "yang paling baik akhlaknya". Ia bertanya,"Siapakah orang yang paling pintar?" Beliau menjawab, "Yang paling sering ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut kematian apa yang terjadi sesudahnya. Mereka itulah orang yang paling pintar"(ath-Thabrani dan Ibnu Majah)

Rasulullah memberitahukan,"Orang pintar ialah orang yang mau mengoreksi dirinya sendiri dan bernama untuk kepentingan akherat nanti. Dan orang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi berharap-harap terhadap Allah."(at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan ath-Thabrani)

"Sering-seringlah mengingat kematian, karena sesungguhnya hal itu bisa membersihkan dosa-dosa dan dapat membuat bersikap zuhud terhadap dunia". (HR.Tirmidzi)

Amirul mukminin Umar ibnul Khaththab sering membaca bait-bait syair ini, " Tidak ada sesuatu pun yang kamu lihat gemerlap itu abadi karena yang abadi hanyalah Tuhan harta dan anak-anakmu akan lenyap Harmuz pada suatu hari pernah tidak membutuhkan simpanan kekayaannya.Kaum 'Aad sudah pernah ingin abadi, tetapi gagal. Begitupula dengan Sulaiman sang pengendali angin, manusia dan jin Mana raja yang dulu pernah paling berjaya di muka bumi?Di akherat kelak semua akan tunduk dan tak mampu berbohog.

Kehidupan tidak lepas dari suka dan duka, atau nikmat dan penderitaan. Ketika berduka dan menderita, mengingat, kematian membantu mempermudah menghadpinya, karena apa yang dialami itu tidak akan abadi. Ketika sedang dalam keadaan suka mengenyam nikmat, mengingat kematian membuat tidak tertipu oleh kenikmatan-kenikmatan yang tengah ia rasakan. Kematian tidak terikat umur tertentu, waktu tertentu. Al-Hasan Al-Basri rahimaullahu berkata,,"Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat kematian melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya."

Yazid ar-Raasyi pernah berkata pada dirinya sendiri, "Yazid, yazid. Celaka, kamu! setelah kamu nanti tiada siapa yang mau shalat atas namamu? dan siapa yang bersedia memintakan keridhaan Allah atas namamu?" Selanjutnya ia mengarakan, "Wahai manusia, kenapa kalian tidak mengangis meratapi sisa hidup kalian yang tinggal tidak berapa lama lagi? Kalian akan dijemput sang maut, dan ditunggu kubur yang beralaskan tanah dan bertemankan cacing-cacing". Merasa dicekam oleh rasa takut yang luar biasa, Yazid pun menangis lalu jatuh pingsan.

Kata at-Taimi,"Ada dua hal yang pasti akan melenyapkan kematian dunia dariku. Yakni, ingat kematian, dan juga ketika berada di hadapan Allah Ta'la. Jiks Sufyan ats-Tsauri sedang mengingat kematian, selama berhari-hari ia kelihatan sangat bersedih. Wajahnya tampak murung, setiap kali ditanya tentang sesuatu ia hanya menjawab, "Saya tidak tahu, saya tidak tahu."

Kematian adalah janji yang pasti aka ditepati. Kematian adalah hakim yang adil, kematian adalah luka, kematian adalah membuat mata mengangis, kematian mengakibatkan perpisahan, kematian akan melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. Dan kematian memutuskan harapan serta angan-angan. "Dan Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat)." (Al-Hasr :18)

Al-Hafifzh Ibnu Katsir Ra menerangkan,"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah ama shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian". Tiada yang melibihi dahsyatnya kematian bagi seorang selain sesudah kematian itu sendiri. Tak ada pilihan lain, surga atau neraka. Saat memilihnya adalah sekarang bagaimana menjalani kehidupan di dunia inilah, penetu kelak... Sumber : MA ( Mutiara AmalY)