Chat disini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 11 Juli 2009

Cinta Dunia

Di antara siksa dunia yang paling menyakitkan ialah pemecah belahan persatuan, perpecahan hati dan kemiskinan diletakkan di pulupuk matanya dan tidak meninggalkannya sedetik pun.

Di sebutkan dalam Jami’At-Tarmidzi hadits dari Abu Hurairah r.a dari Nabi Muhammah saw bersabda :Allah Tabarak wa ta’ala berfirman : ‘Hai anak Adam, berilah tumpuan beribadah kepada-Ku, niscaya Aku memenuhi dadamu dengan kekayaan, dan menutupi kemiskinanku. Jika engkau tidak melakukannya, Aku memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kemiskinanmu.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Termasuk siksa dunia yakni kesibukan hati dan badan menanggung siksa dunia, bersaing dengan manusia dalam meperebutkan dunia, dan memusuhi mereka, seperti dikatakan salah seorang dari generasi salaf,” Barangsiapa mencintai dunia, hendaklah menyiapkan dirinya untuk menanggung banyak musbah.”

Pecinta dunia tidak pernah terlepas dari tiga perkara: 1. Galau yang selalu berlaku 2. Kelelahan yang berkepanjangan 3. Kerugian yang tidak berakhir

Para pecinta dunia mendapatkan sesuatu, pasti jiwanya berhasrat mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi seperti disebutkan dalam hadits shahih dari nabi Muhammad saw yang bersabda: “ Jika anak Adam memiliki dua lembah berisi harta, pasti menginginkan lembah ketiga.”(Diriwayatkan Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Ahmad)

Jika anda ingin tahu penderitaan pemilik dunia, cobalah renungkan keadaan seorang kekasih idaman hatinya. Setiap kali ia bermaksud mendekat kepada kekassihnya, justru kekasihnya menjauh daripadanya, tidak menetap cintanya, mendiamkannya dan musuh datang kepadanya. Bersama kekasihnya, ia merasakan kehidupan yang sangat memenatkan. Ia memilih mati demi kekasihnya, padahal kekasihnya jarang sekali menepati janji, tidak peduli, memiliki kekasih-kekasih idaman lain, dan seringkali bergantian haluan seperti srigala. Bersamanya, ia mendapatkan keamanan dalam dirinya dan hartanya.

Meskipun begitu, ia tidak memiliki kesabaran darinya, tidak mendapatkan jalan kepada hiburan yang menghiburnya, dan ikatan yang selalu boleh bersama dengannya Jika seorang perindu tidak memiliki penderitaan lain selain penderitaan di atas, maka penderitaan diatas sudah cukup. Bagaimana jika ia dijauhkan dari semua kelezatan dan ia tersiksa oleh kesenangan yang menyibukkannya dari berusaha mencari bekal dan kemaslahatan masa depannya di akherat?

Bahwa barangsiapa mencintai sesuatu selain Allah, cintanya bukan untuk Allah, dan ia tidak menggunakan sesuatu tersebut untuk taat kepada Allah Ta’ala, maka Allah menyiksanya dengannya di dunia sebelum hari kiamat, seperti dikatakan dalam syair: “Engkau menjadi korban oleh apa saja yang engkau cintai. Oleh karena itu, pilih untuk dirimu siapa yang engkau pilih di udara.” Pada hari kiamat, Hakim Yang Maha Adil menghakimi semua orang yang mencintai sesuatu di dunia, dengan memberinya nikmat atau siksa. Oleh karena itu, Allah berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata : Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalam bersama-sama Rasul. Kemalangan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu kawan akrab. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari jalan al-Qur’an. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”(Al-Furqan: 27-29)

Bahwa barangsiapa mencintai sesuatu selain Allah swt, ia akan mendapatkan kerugian dan apa yang dicintainya baik yang dicintainya masih ada atau hilang. Jika apa uang dicintai sudah tidak ada lagi, ia di siksa dengan tidak adanya sesuatu yang dicintainya tersebut. Ia menderita sesuai dengan besar kecilnya ketergantungan hatinya dengannya.

Jika yang dicintainya masih ada, sebelum ia mendapatkannya ia sudah menderita, ia lelah setelah mendapatkannya dan rugi ketika hal tersebut hilang dari dirinya. Itu semua lebih besar daripada kenikmatan yang ia rasakan

“Dunia itu terkutuk dan terkutuk pula apa saja yang ada didalamnya kecuali zikir kepada Allah dan apa saja yang berpihak kepada Allah.”(Diriwayatkan At-Tirmidzi) Sumber : Mutiara Amaly

Kamis, 09 Juli 2009

sering-seringlah mengingat kematian....

"Perbayaklah kalian mengingat pemutus kelezatan." (HR At-Tirmidzi no.2307, An-Nasa'i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikj Al-Bani rahimaullahu berkata tentng jhadits ini, "Hasan Shahih.")

Umar Ibnul Khaththab, mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "sering-seringlah kalian ingat akan sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan ini". Ya Rasulullah, apa itu sesuatu yang melenyapkan kenikmatan-kenikmatan itu?" Beliau menjawab, "Kematian".

"Ketika kami sedang duduj bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang sahabat Anshar. Setelah mengucap salam kepada beliau, ia bertanya,"Rasulullah, siapakah orang mukmin yang terbaik itu?" Beliau menjawab, "yang paling baik akhlaknya". Ia bertanya,"Siapakah orang yang paling pintar?" Beliau menjawab, "Yang paling sering ingat kematian dan yang punya persiapan terbaik untuk menyambut kematian apa yang terjadi sesudahnya. Mereka itulah orang yang paling pintar"(ath-Thabrani dan Ibnu Majah)

Rasulullah memberitahukan,"Orang pintar ialah orang yang mau mengoreksi dirinya sendiri dan bernama untuk kepentingan akherat nanti. Dan orang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi berharap-harap terhadap Allah."(at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan ath-Thabrani)

"Sering-seringlah mengingat kematian, karena sesungguhnya hal itu bisa membersihkan dosa-dosa dan dapat membuat bersikap zuhud terhadap dunia". (HR.Tirmidzi)

Amirul mukminin Umar ibnul Khaththab sering membaca bait-bait syair ini, " Tidak ada sesuatu pun yang kamu lihat gemerlap itu abadi karena yang abadi hanyalah Tuhan harta dan anak-anakmu akan lenyap Harmuz pada suatu hari pernah tidak membutuhkan simpanan kekayaannya.Kaum 'Aad sudah pernah ingin abadi, tetapi gagal. Begitupula dengan Sulaiman sang pengendali angin, manusia dan jin Mana raja yang dulu pernah paling berjaya di muka bumi?Di akherat kelak semua akan tunduk dan tak mampu berbohog.

Kehidupan tidak lepas dari suka dan duka, atau nikmat dan penderitaan. Ketika berduka dan menderita, mengingat, kematian membantu mempermudah menghadpinya, karena apa yang dialami itu tidak akan abadi. Ketika sedang dalam keadaan suka mengenyam nikmat, mengingat kematian membuat tidak tertipu oleh kenikmatan-kenikmatan yang tengah ia rasakan. Kematian tidak terikat umur tertentu, waktu tertentu. Al-Hasan Al-Basri rahimaullahu berkata,,"Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat kematian melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya."

Yazid ar-Raasyi pernah berkata pada dirinya sendiri, "Yazid, yazid. Celaka, kamu! setelah kamu nanti tiada siapa yang mau shalat atas namamu? dan siapa yang bersedia memintakan keridhaan Allah atas namamu?" Selanjutnya ia mengarakan, "Wahai manusia, kenapa kalian tidak mengangis meratapi sisa hidup kalian yang tinggal tidak berapa lama lagi? Kalian akan dijemput sang maut, dan ditunggu kubur yang beralaskan tanah dan bertemankan cacing-cacing". Merasa dicekam oleh rasa takut yang luar biasa, Yazid pun menangis lalu jatuh pingsan.

Kata at-Taimi,"Ada dua hal yang pasti akan melenyapkan kematian dunia dariku. Yakni, ingat kematian, dan juga ketika berada di hadapan Allah Ta'la. Jiks Sufyan ats-Tsauri sedang mengingat kematian, selama berhari-hari ia kelihatan sangat bersedih. Wajahnya tampak murung, setiap kali ditanya tentang sesuatu ia hanya menjawab, "Saya tidak tahu, saya tidak tahu."

Kematian adalah janji yang pasti aka ditepati. Kematian adalah hakim yang adil, kematian adalah luka, kematian adalah membuat mata mengangis, kematian mengakibatkan perpisahan, kematian akan melenyapkan kenikmatan-kenikmatan. Dan kematian memutuskan harapan serta angan-angan. "Dan Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat)." (Al-Hasr :18)

Al-Hafifzh Ibnu Katsir Ra menerangkan,"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah ama shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian". Tiada yang melibihi dahsyatnya kematian bagi seorang selain sesudah kematian itu sendiri. Tak ada pilihan lain, surga atau neraka. Saat memilihnya adalah sekarang bagaimana menjalani kehidupan di dunia inilah, penetu kelak... Sumber : MA ( Mutiara AmalY)